Keterangan Gambar : Herman saat membawa ketiga ekor kambing yang siap disembelih untuk dikurbankan.
Poroskaltim.com, BALIKPAPAN - Tekanan ekonomi dan meningkatnya kebutuhan rumah tangga tidak sepenuhnya mengurangi semangat masyarakat menjalankan ibadah kurban pada Iduladha 2026. Di tengah kondisi yang menuntut warga lebih berhitung dalam membelanjakan uang, sebagian masyarakat justru memilih menata ulang prioritas pengeluaran agar tetap bisa berkurban.
Salah satunya dilakukan Herman (43), warga Kelurahan Muara Rapak, Kecamatan Balikpapan Utara, yang tahun ini bersama keluarganya menyiapkan tiga ekor kambing untuk kurban. Hewan kurban tersebut dibeli secara patungan bersama sang ibu.
“Saya satu ekor, Ibu dua ekor. Ibu memang berniat berkurban untuk almarhum kedua neneknya,” ujar Herman, Rabu (27/5/2026).
Bagi Herman, kurban bukan sekadar agenda tahunan saat Iduladha. Ibadah tersebut menjadi bentuk rasa syukur sekaligus cara menunaikan niat yang telah lama disimpan sejak tahun sebelumnya.
Meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya stabil, ia mengaku tetap berupaya menyisihkan penghasilan agar dana kurban tidak terganggu kebutuhan lain.
“Kalau ada rezeki lebih, ingin tetap berkurban supaya bisa berbagi dengan orang-orang sekitar,” katanya.
Untuk mewujudkan niat tersebut, Herman memilih menerapkan pola keuangan yang lebih disiplin. Ia mengandalkan tabungan pribadi yang dikumpulkan secara rutin jauh hari sebelum Iduladha tiba.
Menurutnya, kebiasaan menabung menjadi cara paling realistis agar ibadah kurban tetap bisa dijalankan tanpa harus mengganggu kebutuhan pokok keluarga.
“Alhamdulillah bisa dari tabungan sendiri karena memang sudah dibiasakan menabung,” ujarnya.
Tidak hanya itu, Herman juga mulai mengurangi sejumlah pengeluaran konsumtif demi menjaga dana kurban tetap aman. Aktivitas hiburan seperti nongkrong di kafe, menonton, hingga jalan-jalan ke pusat perbelanjaan sengaja dibatasi beberapa bulan terakhir.
“Biasanya sering ke mall, nonton, ngafe, itu mulai saya kurangi sebelum berkurban,” jelasnya.
Tradisi berkurban sendiri sudah menjadi bagian dari kebiasaan keluarga Herman dalam beberapa tahun terakhir. Selain di Balikpapan, keluarganya juga rutin menyalurkan kurban di kampung halaman mereka di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.
“Dari 2022 keluarga pernah berkurban sapi di kampung Daerah Wajo. Tahun 2024 juga kembali berkurban di Sengkang,” tuturnya.
Kisah Herman mencerminkan bagaimana masyarakat tetap menjaga semangat berbagi di tengah tekanan ekonomi. Banyak warga kini memilih menyesuaikan gaya hidup dan pola belanja agar tetap dapat menjalankan ibadah kurban sesuai kemampuan.
Di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya ringan, Iduladha tetap menjadi momentum yang menghidupkan nilai gotong royong, kepedulian sosial, dan rasa syukur di tengah masyarakat. (*)
Tulis Komentar